Beberapa bulan lalu, tim procurement dari sebuah BUMN di Jakarta meminta penawaran untuk seragam rajut komunitas internal mereka. Sebagai bagian dari due diligence, mereka sudah survey dua vendor di Bekasi yang lebih dekat ke kantor pusat. Tapi setelah membandingkan kualitas sampel dan reliability supplier, mereka akhirnya memilih vendor Bandung. Selisih biaya kirim antara Bandung dan Bekasi ke kantor mereka di Jakarta ternyata tidak signifikan dibanding gap kualitas dan konsistensi.
Bandung sering dianggap default untuk konveksi rajut di Indonesia, dan ini bukan kebetulan. Ada beberapa alasan struktural yang membuat industri rajut di kota ini lebih matang dibanding kota lain. Berikut catatan dari sudut pandang seseorang yang menjalankan workshop di tengah klaster Binong-Batununggal.
Akar sejarah industri tekstil Bandung
Bandung punya sejarah tekstil yang merentang ke era kolonial. Pabrik tekstil besar di sekitar Cibadak, Cigondewah, dan Pasir Koja sudah beroperasi sejak awal abad ke-20. Setelah kemerdekaan, industri ini berkembang dengan dominasi tekstil katun dan kain konveksi.
Industri rajut sebagai turunan dari tekstil mulai matang di tahun 1970-an, ketika impor mesin rajut dari Jepang dan Eropa membanjiri Bandung. Banyak teknisi yang awalnya bekerja di pabrik tekstil belajar mesin rajut secara mandiri, lalu membuka workshop kecil di rumah masing-masing.
Tahun 1990-an dan 2000-an adalah periode konsolidasi. Workshop rumahan tumbuh menjadi konveksi semi-formal, sebagian membentuk klaster di kawasan tertentu seperti Binong, Cibaduyut, dan Cibeunying. Saat saya mulai pada 2005, ekosistem ini sudah cukup terbentuk untuk seorang teknisi baru bisa belajar dan memulai workshop sendiri dengan supply chain yang sudah ada.
Klaster konveksi rajut di Binong dan sekitarnya
Binong-Batununggal adalah salah satu titik klaster konveksi rajut yang paling padat di Bandung. Dalam radius dua kilometer, ada puluhan workshop dengan ukuran beragam, dari rumahan satu-dua mesin sampai konveksi formal dengan delapan sampai sepuluh mesin.
Kepadatan ini menciptakan efek jaringan yang sulit ditiru. Saat satu workshop kebanjiran order, mereka bisa subkontrak ke tetangga dengan standar kualitas yang relatif terjaga. Saat satu teknisi punya spesialisasi tertentu seperti kerah tertentu atau aplikasi bordir, workshop lain bisa minta tolong tanpa kontrak formal panjang.
Untuk klien, kepadatan ini berarti satu kali kunjungan ke Bandung bisa survey lima sampai delapan vendor sekaligus dalam satu hari. Itu hampir tidak mungkin di kota lain di mana konveksi rajut tersebar lebih jarang.
Klaster lain di Bandung dengan karakter mirip ada di Cigondewah dan Ciroyom, dengan spesialisasi yang sedikit berbeda. Cigondewah lebih ke tekstil dan jersey, Binong lebih ke rajut struktural.
Akses bahan baku dan supplier benang
Faktor kedua yang membuat Bandung kompetitif adalah supply chain benang yang matang.
Sebagian besar benang rajut yang dipakai konveksi Indonesia adalah produksi lokal dari pabrik di Bandung, Surabaya, atau Solo. Pabrik di Bandung lebih dekat ke konveksi Binong, memendekkan lead time benang dari pemesanan sampai siap dipakai.
Untuk benang impor seperti wol murni dari Australia atau cashmere dari China, importir besar punya gudang di Bandung. Konveksi tidak perlu memesan langsung dari luar negeri dengan minimum order ratusan kilogram. Untuk order satu sampai dua kone benang impor, supplier lokal bisa memenuhi dalam tiga sampai tujuh hari.
Konsistensi warna juga lebih terjaga karena supplier yang sama melayani banyak konveksi di klaster yang sama. Saat klien meminta repeat order, peluang dapat batch benang yang warna identik lebih tinggi.
Saya pernah dengar cerita dari konveksi di luar Jawa yang harus tunggu tiga minggu hanya untuk dapat satu kone benang dengan warna spesifik. Di Bandung, ini biasanya bisa diselesaikan dalam satu minggu.
SDM teknisi yang sulit didapat di kota lain
Faktor ketiga adalah ketersediaan teknisi yang sudah berpengalaman.
Konveksi rajut tidak bisa dijalankan dengan teknisi pemula. Pengaturan mesin, debugging masalah produksi, dan eksekusi detail rumit butuh pengalaman bertahun-tahun. Mengaderkan teknisi dari nol butuh dua sampai tiga tahun training.
Di Bandung, ada pool teknisi yang sudah cukup besar karena industri ini sudah jalan puluhan tahun. Teknisi senior sering jadi mentor untuk yang muda. Banyak workshop yang teknisinya keluarga sendiri, sehingga skill tertransfer antar generasi.
Saat satu workshop butuh tambahan teknisi untuk order besar, peluang dapat teknisi freelance yang capable dalam hitungan hari jauh lebih tinggi di Bandung. Di kota lain, konveksi yang baru mau berkembang sering terhambat oleh ketersediaan teknisi.
Selain teknisi rajut, vendor pendukung seperti finishing, bordir, dan packaging juga tersedia melimpah. Workshop tidak perlu in-house semua kapabilitas karena ekosistem sekitar bisa mengisi gap.
Logistik: Jakarta, pelabuhan, dan ekspor
Bandung punya keuntungan geografis untuk distribusi.
Ke Jakarta, lead time pengiriman lewat tol Cipularang biasanya tiga sampai lima jam. Banyak klien Jakarta yang ambil sampel sendiri dengan PP one-day trip. Untuk pengiriman batch produksi, ekspedisi truk standar bisa selesai dalam satu sampai dua hari.
Ke Tanjung Priok yang merupakan pelabuhan utama Jakarta, distance Bandung relatif dekat dibanding kota produksi tekstil lain di luar Jawa. Untuk ekspor rajut ke luar negeri, ini berarti lead time logistik lebih pendek dan biaya container lebih terjangkau.
Bandara Internasional Husein Sastranegara untuk pengiriman cepat ke regional Asia Tenggara juga ada. Untuk klien ekspor yang butuh delivery via udara, distance ke bandara dari klaster konveksi cukup pendek.
Kombinasi akses tol, pelabuhan dekat, dan bandara dalam kota ini membuat Bandung lebih kompetitif daripada konveksi di luar Jawa yang harus tambah lead time pengiriman ke pelabuhan utama.
Tantangan industri saat ini
Industri konveksi rajut Bandung bukan tanpa tantangan.
Pertama, generasi teknisi senior mulai berkurang tanpa cukup banyak generasi muda yang masuk. Pekerjaan teknisi rajut tidak glamor dan upahnya tidak setinggi industri lain. Banyak anak teknisi yang memilih karir di luar industri keluarga.
Kedua, impor produk rajut yang lebih murah dari China dan Bangladesh menekan margin konveksi lokal. Untuk kategori volume besar dengan kualitas standar, banyak brand pilih impor dibanding produksi lokal.
Ketiga, kapasitas mesin tidak meningkat sebanding dengan kebutuhan. Mesin rajut baru mahal, dan banyak workshop masih pakai mesin lama yang umurnya puluhan tahun. Konsekuensinya, capacity ceiling untuk industri rajut Bandung tidak naik banyak dalam dekade terakhir.
Yang membuat industri ini tetap relevan adalah custom dan small batch. Klien yang butuh produk dengan spesifikasi unik, volume terbatas, dan komunikasi langsung dengan produsen tetap akan mencari konveksi lokal. Itu posisi yang sulit digantikan oleh impor.
Penutup
Tidak setiap konveksi di Bandung otomatis bagus. Tapi rasio peluang menemukan vendor yang kompeten lebih tinggi di sini dibandingkan kota lain, karena ekosistem yang sudah matang puluhan tahun.
Workshop kami di Binong, Batununggal adalah satu titik di klaster ini. Untuk konteks lebih luas tentang cara memilih konveksi rajut Bandung untuk brand atau instansi Anda, baca artikel pillar tentang kriteria memilih mitra produksi.
Kalau Anda mempertimbangkan kunjungan langsung ke Bandung untuk survey vendor, kami terbuka untuk diskusi via WhatsApp di +62 838-9497-0450 atau email ke info@knitwear.work.